Toyota Indonesia belum lama ini meluncurkan sebuah crossover baru yaitu C-HR. Crossover ini digadang-gadang masuk di segmen yang sama dengan Honda HR-V, Nissan Juke, Mazda CX-3 dan Chevrolet Trax namun dengan banderol harga yang tergolong paling mahal.

Untuk menghilangkan rasa penasaran ini karena tingginya harga C-HR yang mencapai Rp 488,5 hingga Rp 490 juta ini, Toyota mengadakan kegiatan bernama “Media First Impression Toyota C-HR” di kawasan Ancol, Jakarta Utara (2/5).

Untuk itu kami langsung saja mencoba mobil yang memiliki platform terbaru ini yaitu Toyota New Global Architecture (TNGA) yang diklaim memiliki fungsi untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi model-model terbaru agar satu platform bisa digunakan ke lebih banyak model Toyota. Tidak hanya itu, Toyota juga menjanjikan kesenangan berkendara serta ikatan emosional terhadap mobil berplatform TNGA.

Begitu masuk ke dalam kabinnya, kami langsung mendapatkan posisi duduk di kursi pengemudi yang terbilang rendah untuk sebuah compact SUV atau crossover. Mencari posisi yang pas untuk mengemudi sayangnya tidak secara elektrik pengaturannya. Ternyata ada maksud khusus dari Toyota yang membuat posisi duduk cenderung rendah, yaitu demi mendapatkan low center of gravity sehingga rasa yang dinamis saat berkendara harusnya kian maksimal.

Tidak mau berlama-lama, mesin berkubikasi 1.800 cc langsung kami nyalakan dengan memencet tombol Start Stop Button. Saat dapur pacu sudah menyala, getarannya nyaris tidak terasa di dalam kabin apalagi saat pintu tertutup.

Sesaat duduk di posisi pengemudi, memang desain coupe a like ini membuat C-HR memiliki sedikit masalah dengan blind spot pada sisi pilar C, visibiltasnya yang rendah akan mempersulit Anda saat parkir mundur.

Akhinya untuk pertama kali C-HR versi Indonesia pun kami bawa jalan. Karakter dari transmisi otomatik Continous Variable Transmission (CVT) terasa halus, nyaman saat digunakan stop-and-go di tengah padatnya lalu lintas. Namun dengan catatan saat itu kami posisikan di mode berkendara Eco-Mode.

Namun ternyata pemilihan mode berkendara ini cukup unik, karena untuk mendapatkan mode yang kita ingingkan, Anda harus sedikit effort dengan membuka pengaturan di MID (Multi Information Display) menggunakan tombol di lingkar kemudi.

Komputer dari C-HR ini diklaim memiliki pengaturan khusus untuk CVT-nya, yaitu saat perpindahan gigi yang terasa natural seperti transmisi otomatis reguler biasa. Toyota menyebut putaran mesin akan terasa berubah setiap perpindahan ke gear lebih tinggi. Umumnya pada transmisi berteknologi CVT, putaran mesin selalu bertahan di atas.

Untu mengeksplorasi performanya, kami pun sempat menggunakan mode Sport. Namun ternyata pengaturan untuk mendapatkan rasa natural untuk transmisi CVT membuat mobil ini terasa kurang responsif ketika berakselerasi.

Kami kembali melesatkannya dengan menggunakan mode perpindahan manual pada transmisi, saat peda gas diinjak habis, mesin langsung merespons namun ada jeda terasa di putaran 2.000 rpm, sebelum kemudian meninggi dan memberikan torsi maksimalnya.

Untuk suspensi, peredamannya terasa dalam kombinasi yang seimbang antara kaku dan lembut. Karakter ini memberikan kesan mobil yang lebih mewah dibanding segmennya saat melalui jalan bergelombang. Saat diajak bermanuver cukup kencang pun, suspensinya mampu menahan gejala body roll sehingga handlingnya nyaris mendekati sebuah hatchback.

FIRST DRIVE: Toyota C-HR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *